Sabtu, 28 Januari 2012

Sejarah Rekayasa Perangkat Lunak

1945 - 1965: Awal
Istilah software engineering digunakan pertama kali pada akhir 1950-an dan awal 1960-an. Saat itu, masih terdapat debat tajam mengenai aspek engineering dari pengembangan perangkat lunak.
Pada tahun 1968 dan 1969, komite sains NATO mensponsori dua konferensi tentang rekayasa perangkat lunak, yang memberikan dampak kuat terhadap perkembangan rekayasa perangkat lunak. Banyak yang menganggap bahwa dua konferensi inilah yang menandai awal resmi profesi rekayasa perangkat lunak.

1965 - 1985: krisis perangkat lunak
Pada tahun 1960-an hingga 1980-an, banyak masalah yang ditemukan para praktisi pengembangan perangkat lunak. Banyak projek yang gagal, hingga masa ini disebut sebagai krisis perangkat lunak. Kasus kegagalan pengembangan perangkat lunak terjadi mulai dari projek yang melebihi anggaran, hingga kasus yang mengakibatkan kerusakan fisik dan kematian. Salah satu kasus yang terkenal antara lain meledaknya roket Ariane akibat kegagalan perangkat lunak.

1985 - kini: tidak ada senjata pamungkas
Selama bertahun-tahun, para peneliti memfokuskan usahanya untuk menemukan teknik jitu untuk memecahkan masalah krisis perangkat lunak.
Berbagai teknik, metode, alat, proses diciptakan dan diklaim sebagai senjata pamungkas untuk memecahkan kasus ini. Mulai dari pemrograman terstruktur, pemrograman berorientasi object, perangkat pembantu pengembangan perangkat lunak (CASE tools), berbagai standar, UML hingga metode formal diagung-agungkan sebagai senjata pamungkas untuk menghasilkan software yang benar, sesuai anggaran dan tepat waktu.
Pada tahun 1987, Fred Brooks menulis artikel No Silver Bullet, yang berproposisi bahwa tidak ada satu teknologi atau praktik yang sanggup mencapai 10 kali lipat perbaikan dalam produktivitas pengembangan perangkat lunak dalam tempo 10 tahun.
Sebagian berpendapat, no silver bullet berarti profesi rekayasa perangkat lunak dianggap telah gagal. Namun sebagian yang lain justru beranggapan, hal ini menandakan bahwa bidang profesi rekayasa perangkat lunak telah cukup matang, karena dalam bidang profesi lainnya pun, tidak ada teknik pamungkas yang dapat digunakan dalam berbagai kondisi.


Jumat, 27 Agustus 2010

CintaMu dan cintamu


Ketidakberdayaan apa ini ?
Pikiranku terpaku, langkahku terpatri
Deret nafasku menopang nyeri
Sungguh, aku tak mengerti
Aku duduk di sebuah persimpangan di negeri yang koyak
Melamun diantara kebisingan yang pekak
Mencoba merongrong siang yang berarak
Karena malam telah kehabisan sendu yang bercorak
Sungguh, isi jiwaku tetap tak mengerti
Siang itu, hujan jatuh layaknya barisan yang berderu
Mencari celah diantara awan pekat yang bergurau
Menghindar dari kutukan yang sebenarnya adalah kabut kebenaran yang tak tersentuh
Tapi aku berusaha tegak
Aku yang congkak dengan keterbatasanku yang cekak
Aku yang menangis, memohon parau ngilu yang sesak
Aku yang termenung di persimpangan menyayangkan jarak
Mencoba membawa jasad dan jiwa yang pedih untuk dituntun
Tetap menuntun
Tetap menanti
Masih menunggu
Menunggu cinta-Mu dan cintamu
Hhhh...........
Seluruh pikirku masih tak memahami
Aku merajuk pada-Mu dan padamu
Dalam diamku masih terdapat harap untuk-Mu dan untukmu
Aku meminta pada-Mu dan padamu
Jangan padamkan rasa akan-Mu dan akanmu
Aku bersungguh di dekat-Mu dan dekatmu
Bahwa, aku sujud dalam sungguh-Mu
Dan merengek pada kepuraan darimu
Pada alamku masih belum juga mengilhami
Dalam selongsong yang kosong ini
Pertama mendamba kasih-Mu
kedua mengharap hadirmu
Kalau bisa kukatakan
Dalam dekat akan-Mu menenangkanku
Dalam jarak akanmu menggelisahkanku
Bila pertemuan dengan-Mu dan denganmu
Menjadi obat tidur pada malam yang mencekam suaraku
Basuhlah aku dengan kasih-Mu
Dan jumpa denganmu
Walaupun aku hanya termenung dalam menenung benangnya dalam tempurung
Aku tetap menuntun
Tetap menanti
Masih menunggu
Menunggu cinta-Mu dan cintamu

source : dudung.net